Kamis, 23 Juni 2011

laporan Titrasi asam basa


A. JUDUL      : TITRASI ASAM BASA
B. TUJUAN     : Melakukan titrasi asam basa untuk menentukan konsentrasi suatu  larutan asam.
C. DASAR TEORI :
                             Titrasi adalah cara analasis tentang pengukuran jumlah larutan yang di butuhkan untuk bereaksi secara tetap dengan zat yang terdapat dengan larutan lain. Analisis yang berkaitan dengan volume-volume larutan pereaksi disebut analisis volumetric.
         Dalam volumetric sering juga  dipakai istilah titer yang berarti bobot suatu zat yang ekuivalen dengan 1 ml larutan setandar. Umpamakan 1 ml larutan zat A ekuivalen dengan 0,010 gram NaOH. Maka dikatakan bahwa titer larutan standar A terhadap NaOH adalah 0,010 gram.
         Penetapan volumetric kadar zat B dari suatu buret dititrasi (diteteskan) larutan standar A sampai titik ekuivalennya tercapai, yaitu sampai: banyak mol zat A : banyak mol zat B = perbandingan koefisiennya menurut persamaan reaksi.
         Dalam titrasi titik ekuivalen tersebut ditetapkan dengan memakai suatu indicator yaitu suatu zat yang harus mengalami perubahan saat titik ekuivalen tercapai. Bila dilakukan pada larutan asam kuat berbasa satu dengan basa kuat berasam satu, atau asam kuat berbasa dua dengan basa kuat berasam dua diterapkan rumus sebagai berikut.
V1­. M1 = V1. M2
                                                                                


Referensi : Ari harnanto , kimia 2 untu sma.hal:178-179

         Titrasi merupakan metode analisa kimia secara kuantitatif yang biasa digunakan dalam laboratorium untuk menentukan konsentrasi dari reaktan. Karena pengukuran volum memainkan peranan penting dalam titrasi, maka teknik ini juga dikenali dengan analisa volumetrik. Analisa titrimetri merupakan satu dari bagian utama dari kimia analitik dan perhitungannya berdasarkan hubungan stoikhiometri dari reaksi-reaksi kimia. Analisa cara titrimetri berdasarkan reaksi kimia seperti: aA + tT → hasil dengan keterangan: (a) molekul analit A bereaksi dengan (t) molekul pereaksi T. Pereaksi T, disebut titran, ditambahkan secara sedikit-sedikit, biasanya dari sebuah buret, dalam bentuk larutan dengan konsentrasi yang diketahui. Larutan yang disebut belakangan disebut larutan standar dan konsentrasinya ditentukan dengan suatu proses standarisasi. Penambahan titran dilanjutkan hingga sejumlah T yang ekivalen dengan A telah ditambahkan. Maka dikatakan baha titik ekivalen titran telah tercapai. Agar mengetahui bila penambahan titran berhenti, kimiawan dapat menggunakan sebuah zat kimia, yang disebut indikator, yang bertanggap terhadap adanya titran berlebih dengan perubahan warna. Perubahan warna ini dapat atau tidak dapat trejadi tepat pada titik ekivalen. Titik titrasi pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir. Tentunya merupakan suatu harapan, bahwa titik akhir ada sedekat mungkin dengan titik ekivalen. Memilih indikator untuk membuat kedua titik berimpitan (atau mengadakan koreksi untuk selisih keduanya) merupakan salah satu aspek penting dari analisa titrimetri.

        
         Titrasi merupakan salah satu cara untuk mentukan konsentrasi larutan suatu zat dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan zat lain yang diketahui konsentrasinya.
            Titik ekivalen pada titrasi asam basa adalah pada saat dimana sejumlah asam tepat di netralkan oleh sejumlah basa. Selama titrasi berlangsung terjadi perubahan pH. pH pada titik equivalen ditentukan oleh sejumlah garam yang dihasilkan dari netralisaasi asam basa. Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah yang memiliki rentang pH dimana titik equivalen berada. Pada umumnya titik equivalen tersebut sulit untuk diamati, yang mudah dimatai adalah titik akhir yaang dapat terjadi sebelum atau sesudah titik equivalen tercapai. Titrasi harus dihentikan pada saat titik akhir titrasi tercapai, yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik equivalen. Dengan pemilihan indikator yang tepat, kita dapat memperkecil kesalahan titrasi.
Pada titrasi asam kuat dan basa kuat, asam lemah dan basa lemah dalam air akan terurau dengan sempurna. Oleh karena itu ion hidrogen dan ion hidroksida selama titrasi dapat langsung dihitung dari jumlah asam atau basa yang ditambahkan. Pada titik equivalen dari titrasi asam air, yaitu sama dengan 7.
        
         Referensi : team teaching,praktikum kimdas 2.

















D. ALAT DAN BAHAN
            Alat

             
                  Gelas kimia                       pipet tetes                           buret
           
           

           
                        Corong                  Gelas erlenmeyer                 gelas ukur


            BAHAN
1.      NaOH 0,05
2.      HCl
3.      Phenoftalein
4.      Aquadest
5.      Kertas saring / tissu

           
           




E. PROSEDUR KERJA






























F. HASIL PENGAMATAN
Tabel Hasil Pengamatan Titrasi Asam Basa

Titrasi
V asam(V1)
V titrasi
V rata-rata(V2) titrasi
I
10 ml
9,8 ml
9.15 ml
II
10 ml
8.5 ml

G. PERHITUNGAN

V1 . N1 = V2 . N2
10 ml . N1 = 9,15 ml . 0,1 N
10 ml N1 = 0,915
N1
       = 0,0915 M
           
H. PEMBAHASAN
Titrasi adalah cara analasis tentang pengukuran jumlah larutan yang di butuhkan untuk bereaksi secara tetap dengan zat yang terdapat dengan larutan lain.
 Analisis yang berkaitan dengan volume-volume larutan pereaksi disebut analisis volumetric. Dalam percobaan titrasi asam basa yang telah di lakukan, ( Titrasi HCl dengan zat titran NaOH ), didapatkan data sebagai berikut:
 Reaksi:
HCl(aq) + NaOH(aq)               NaCl(aq) + H2O(l)
Dari reaksi di atas dapat diketahui bahwa perbandingan mol antara HCl dan NaOH sama sehingga untuk menghitung konsentrasi dari larutan HCl yang didasarkan atas hasil percobaan, m aka dapat digunakan persamaan berikut ini:
V1 . N1 = V2 . N2
Keterangan:
M1 = Normalitas asam (HCL)
M2 = Normalitas basa kuat (NaOH)
V1  = volume larutan asam
V2  = volume larutan basa
Dalam percobaan pertama, langkah pertama yang dilakukan adalah  HCl 10 ml dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH 0,01 M 50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 9,8 ml. Sedangkan dalam percobaan kedua dengan cara yang samadengan percobaan yang pertama didapatkan volume titrasinya 8,5 ml. dan dihitung rata-ratanya dari titrasi pertama dan kedua didapat volume rata-ratanya 9,15 ml. dengan menggunakan rumus untuk mencari normalitas larutan asam didapat N1 = 0,0915 M.
Berdasarkan teori, larutan asam bila direaksikan dengan larutan basa akan menghasilkan garam dan air. Sifat asam dan sifat basa akan hilang dengan terbentukanya zat baru yang disebut garam yang memiliki sifat berbeda dengan sifat zat asalnya (dalam percobaan ini adalah NaCl) . Karena hasil reaksinya adalah air yang memiliki sifat netral yang artinya jumlah ion H+ sama dengan jumlah ion OH- maka reaksi itu disebut dengan reaksi netralisasi atau penetralan. Pada reaksi penetralan, jumlah  asam harus ekivalen dengan jumlah basa. Untuk itu perlu ditentukan titik ekivalen reaksi.
Titik ekivalen merupakan keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah  mol basa. Untuk menentukan titik ekivalen pada reaksi asam-basa dapat digunakan indikator asam-basa. Ketepatan pemilihan indikator merupakan syarat keberhasilan dalam menentukan titik ekivalen. Pemilihan indikator didasarkan atas pH larutan hasil reaksi atau garam yang terjadi pada saat titik ekivalen. Salah satu kegunaan reaksi netralisasi adalah untuk menentukan konsesntrasi asam atau basa yang tidak diketahui. Penentuan konsentrasi ini dilakukan dengan titrasi asam-basa.
Titrasi merupakan cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan mengukur volumenya secara pasti. Bila titrasi menyangkut titrasi asam-basa maka disebut dengan titrasi adisi alkalimetri. Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran. Titran ditambahkan sedikit demi sedikit (dari dalam buret) pada titrat (larutan yang dititrasi) sampai terjadi perubahan warna indikator. Saat terjadi perubahan warna indikator, maka titrasi dihentikan. Saat terjadi perubahan warna indikator dan titrasi diakhiri disebut dengan titik akhir titrasi dan diharapkan titik akhir titrasi sama dengan titik ekivalen. Semakin jauh titik akhir titrasi dengan titik ekivalen maka semakin besar kesalahan titrasi dan oleh karena itu, pemilihan indikator menjadi sangat penting agar warna indikator berubah saat titik ekivalen tercapai. Pada saat tercapai titik ekivalen maka pH-nya 7 (netral). Rentang pH yang menimbulkan perubahan besar warna indikator disebut dengan interval transisi. Larutan standar adalah larutan yang disiapkan dengan cara menimbang secara akurat suatu zat  yang memiliki kemurnian tinggi dan melarutkannya dengan sejumlah tertentu pelarut dalam gelas erlenmeyer. Larutan standart yang dipersiapkan dengan cara seperti ini disebut sebagai larutan standart primer.
           
                       




I. KESIMPULAN
1.      Titrasi merupakan cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan mengukur volumenya secara pasti.
2.      Titik ekivalen merupakan keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol basa.
3.      Titik akhir titrasi adalah titik dalam titrasi yang ditandai dengan perubahan warna indikator.
4.      Perubahan PH dalam titrasi asam basa disebut kurva titrasi.
5.      Jika asam ditetesi basa, maka PH larutan naik, sebaliknya jika larutan basa ditetesi asam maka PH larutan akan turun.

J. JAWABAN PASCA PRAKTIKUM
1.      Indikator Bromis  Timol biru dapat digunakan untuk menentukan pH semua jenis larutan. Brom timol biru adalah asam dipotrik lemah dan mengalami perubahan warna dalam dua selang pH salah satu selang pH ialah dari 1,2 ke 2,8 dan perubahan warna dari merah menjadi kuning, selang lain ialah dari pH 8,0 ke 9,6 dengan perubahan warna kuning menjadi biru.
2.      Dik :    [ NaOH ] = 0,05 M, V = 15,3 mL , Mr = 40
[ HCl ]  = 0,1 M , V = 10 mL , Mr = 36,5
Dit :     A. Normalitas ( N ) ..........?
 B. Molaritas (M)...............?
 C. Gr / L............................?
penye : A. N. NaOH =  m.ekivalen
                                 = 0,05 N
               N.HCl       =  m ekivalen
                                 = 0,1 N
B . Gr NaOH = m.V.Mr
                     = 0,05 x 15,3 x 40
                     = 36,5 grm
Gr HCl  = 0,1 x 10 x 36,5
              = 36,5 grm
M NaOH =   =
              = 0,05 M
M HCl =  =  
            = 0,1 M
C. Gr/L NaOH =
                         = 2000 Gr/L
    Gr/L HCl =
                    3650 Grm/L




DAFTAR PUSTAKA

            Harnanto, Ari. 2009. Kimia 2 untuk SMA. Jakarta : Erlangga.
team teaching. 2011. Modul praktikum kimia dasar II. Gorontalo : F MIPA

           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar